Sabtu, 20 Juni 2020

Bocah Kok Nesuan

Seandainya aku bisa mengatakan kepada serangga-serangga di belahan dunia ini yang sering menggigitku sampai merah-merah, aku ingin bilang "tolong jangan jail begitu dong"

Seandainya aku bisa mengatakan kepada benda-benda di belahan dunia ini yang sering membuatku kepantok-pantok sampai memar-memar, aku ingin bilang "tolong jangan jail begitu dong"

Tapi kenyataannya, aku tidak bisa ngobrol sama mereka.

Jadi aku mung ngomong sendiri tiap kali menyadari ada yang merah atau memar :
"Meneh.. Iki meneh, kabeh wae merah-merah. Kabeh wae memar-memar. Bola bali kok ga uwes-uwes.."

Nggremeng.
Uring-uringan.
Campur kesuh.
Saking kesuhnya, aku sering mengatakan
"Jane aku kurang kepiye lah, kok ga uwes-uwes"

Sambil pingin nesuuu😂

Minggu, 14 Juni 2020

Minggu Pagi.

Di minggu pagi hari ini, untuk menenangkan pikir, dan beberapa hal yang menekan, aku awali dengan beberapa catatan sederhana.
Buat kamu yang selalu ragu, yang sering takut-takut, atau terlena kebiasaan buruk.
Yah, faktanya memang begitu, sih.

Sejengkal demi sejengkal.
Sehasta demi sehasta.

Sejatinya emang fitrah manusia itu condong kepada kebaikan.
Kalo dibiasain baik ya jadi baik beneran karena juga sudah jadi kebiasaan.
Kalo semakin dibiasain makin kebiasaan, lama-lama jadi karakter dan mendarah daging.
Jangan membiasakan yang buruk-buruk nanti jadi kebiasaan, tubuh kita nurut sama otak kita, dia ga bisa bedain mana yang baik dan buruk karena cuma ngikut aja.
Yang bisa kontrol/kendalikan ya otak kita, akal pikiran, sama hati nurani kita.
Nyatanya memang kalo mau condongnya ke kebaikan ya jadinya baik.
Begitu juga sebaliknya.
Kadang aku gk nyangka sama apa yang aku lihat, alami dan rasain, ternyata, ga seburuk itu.
Tapi karena sadar diri juga, akhirnya makin mikir kalo ternyata kebaikan itu bisa terpancar dengan sendirinya kalo dibiasain.
Jangan sombong karena merasa diri baik.
Tapi juga jangan minder karena merasa diri banyak kurang dan ga baiknya.
Sederhana tapi yang terpenting, terus menerus memperbaiki diri
Teruslah melangkahkan kaki menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Aku bersyukur banget kenal dan dikasih tau hal-hal yang aku ga tau sama orang-orang yang lebih dewasa dan lebih dulu tau, jadinya bisa belajar dari mereka, dipelajarin dan dipraktekkin.
Asal konsisten, kepribadian dan karakter itu akan terbentuk.
Seburuk apapun perangai manusia, kalo memang dia niat dan sungguh-sungguh berusaha ngerubah dirinya, usahanya itu bekerja kok, bisa berhasil.
Meski susahnya susah banget bukan berarti gk bisa.

Kamis, 11 Juni 2020

Terlambat? Tidak apa.

Kadang kita hanya terlambat memahami pesan yang dikirimkan oleh Tuhan, bukan tidak memahaminya.

Kita hanya terlambat memahaminya.

Bukan kesalahan isi pesan yang disampaikan, tapi keterlambatan pemahaman kita dalam mencerna isi pesan tersebut.
Mungkin begitulah alasan mengapa Tuhan begitu penyayang, pengampun dan pengertian.
Karena Tuhan begitu tau dan maha tau bahwa manusia seringkali terlambat memahami pesan-pesan yang Ia sampaikan.
Manusia seringkali lupa, lalai dan mengalami keterlambatan, pun ketidaktahuan dan ketertinggalan.

Kita bukan bodoh, kita hanya terlambat mengetahui sesuatu.
Entah itu sebuah kesalahan atau kebenaran.

Mungkin begitu juga dalam memahami diri sendiri dan manusia lainnya, kita bukan tidak memahaminya, kita hanya terlambat memahaminya.

Rabu, 10 Juni 2020

Ya, lalu? Hari ini harus lebih baik daripada kemarin, dan besok harus lebih baik daripada hari ini.

Aku penakut, tapi aku berusaha buat berani.
Aku pemalu, tapi aku berusaha buat percaya diri.
Aku antusias menyampaikan apa-apa, tapi aku berusaha menahan diri.
Jika untuk hal yang aku ketahui aku berusaha bicara hati-hati, apalagi soal hal yang tidak ku ketahui???
Aku memilih lebih luwes, kalem, dan tau kapan harus bicara dan diam.
Kapan harus membela dan mempertahankan argumen-argumenku.
Selain karena aku membenci perdebatan, aku juga lebih ingin berusaha mendengarkan.

Agar pikiranku lebih terbuka.
Dan selalu mempersiapkan telinga untuk mendengarkan lebih seksama.

Aku boleh saja menjadi cengeng, rapuh dan lemah di dalam.
Tapi setiap kali kulangkahkan kaki untuk keluar, aku haruslah tersenyum dan berpakaian rapi.
Berbicara yang sopan dan bercanda secara hati-hati.
Agar tidak sampai lisan ini lepas berkata sembarangan, lalu menyakiti hati siapa saja yang mendengarkan.

Aku boleh saja menangisi beberapa hal yang terjadi, menangisi dan menyesalinya dalam-dalam.
Menangis sendirian, di malam hari dan dikamarku.

Tapi saat kulangkahkan kaki keluar dari rumah, aku haruslah tetap rapih dan manis.
Mataku boleh saja bengkak, tapi riasan wajahku harus rapih dan jangan berantakan.

Aku mungkin berantakan di dalam.
Tapi aku tidak ingin terlihat begitu semrawut dan awut-awutan.

Aku tidak suka orang lain melihatku pucat pasi dan muram.
Aku tidak suka terlihat begitu berantakan.

Di dalam aku boleh saja menangis sejadi-jadinya.
Tetapi di luar, aku harus lebih kuat dan tangguh daripada biasanya.

Bukan aku tidak mengakui kelemahan dan betapa berantakannya diriku, tetapi aku melatih diriku untuk merapihkan hal-hal yang bisa kutangani.

Kepada Kekasihku, Kanjeng Gusti, terimakasih karena sudah membuatku menjadi pribadi seperti ini.
Terimakasih karena saat aku begitu merasa sangat tertekan, hal yang kulalui selalu berakhir dengan ucapan :
"Ah, ternyata mudah sekali"

Aku bersyukur.

Untuk mengeluhkan beberapa hal, aku harus memikirkannya dulu lain kali.
Yang jelas, aku berusaha untuk tidak begitu tertekan dan berantakan.

Baik di dalam, maupun di luar.

Aku haruslah terlihat lebih rapi.
Baik-baik saja.
Dan enak dipandang.

Bukan keluar rumah dengan wajah kusut dan muram, dengan raut wajah yang begitu tertekan dan berantakan.


Itu tidak akan pernah enak untuk dipandang.

Bahkan ketika kau sangat hancur berantakan, kau harus terus menyisakan senyuman.
Untuk orang lain, dan dirimu sendiri.

---
Ah, seorang Profesor yang begitu menghormati orang lain dan dirinya sendiri.
Tutur katanya halus, sopan dan tertata rapi
Tidak mengatakan hal-hal yang tidak berarti.

Aku suka pribadi yang matang seperti ini.

Begitu mendamaikan.
Sehingga otakku bekerja dan berpikir untuk meneladani sikap santun nya.

Ah, Guru Besar memang demikian.

Ah, seorang guru memang harus demikian.

Selasa, 01 Januari 2019

Yang Belum Usai


Kadang kadang aku menulis dengan kewarasan, kadang kadang tidak
Kadang aku menulis dengan kesadaran, kadang juga tidak
Kadang aku menulis dengan kedewasaan, kadang juga kekanakan

Jauh jauh hari sebelum semua terjadi
Jauh jauh hari sebelum aku tau bahwa hal yang aku alami membuatku begitu menjadi orang yang acuh dan bodoamat

Ada banyak hari, dimana aku merasa bahwa menjadi orang baik adalah kebodohan, tapi kadang juga tidak
Kadang aku berpikir untuk senantiasa menjadi orang baik meskipun sekelilingku tidak baik

Lalu pada akhirnya, entah kenapa aku merasa kelelahan sendiri
Membohongi diri sendiri itu tidak pernah enak
Meyakinkan diri sendiri itu tidak pernah mudah
Merasa bahwa kau tidak kenapa-kenapa itu juga bohong

Manusiawi kita merasa terluka, putus harapan, dan kecewa
Manusiawi kita berharap banyak kepada siapa saja
Saat kita menyadari memang harapan yang paling menjanjikan adalah berharap kepada Dia yang Maha menepati segala janji

Aku benci hal-hal yang berantakan
Hal-hal yang sulit sekali di atur dan di rapihkan
Aku benci sekali hal-hal yang serba semrawut
Tapi entah kenapa hidupku begitu semrawut
Dulu, saat aku belum mengerti soal perceraian kedua orangtuaku, perpisahan, sakit hati, luka batin, kekecewaan, dan segala luka, aku berpikir semua biasa saja, tidak ada yang tidak biasa. Aku pikir bahwa semua memang, ya. Sudah digariskan.
Tapi, dulu usiaku bahkan belum genap 2 tahun. Sekarang, usiaku sudah 20 tahun, jadi semuanya berubah, kan? Yang kupikirkan, yang kurasakan, tidak lagi sama.

Entah kenapa ujian datang bertubi-tubi, itu sebagai pembelajaran, kan?
Karna hidup itu adalah tentang belajar seumur hidup. Karna hidup adalah tentang bagaimana kita menguji sabar dan ikhlas kita sendiri kepada orang lain atau bahkan diri sendiri.

Kadang, ada saat dimana aku begitu ingin pergi jauh meninggalkan segala hal yang dengan amat sulit kutangani tapi juga tak kunjung selesai.
Tentang segala hal yang coba kusabari tapi juga tak kunjung usai.

Masalahnya bukan “kau belum berhasil melewati itu semua”

Tapi memang kadang ada pihak-pihak yang tidak bisa berhenti disana. Sehingga kadang-kadang cara penyelesaiannya adalah “Pergi, meninggalkan, atau bahkan menghilang”.

Biar, biar saja.
Ada banyak hal yang harus di urus. Bukan hanya drama-drama penuh penderitaan.

Sabtu, 29 Desember 2018

Keberanian Untuk Jatuh Cinta

Apa jatuh cinta itu harus berani dulu?
ya, tentu saja.
Kenapa?
Karna kau harus berani jatuh.
Posisi yang kau buat sulit sendiri adalah jatuh tanpa rencana. Atau buruknya adalah : merencanakan jatuh cinta.
Sayangnya, itu belum bisa.

Kepada calon seseorang yang kelak mampu menerimaku, dengan segalanya aku yang barangkali rumit, kan?

Begini, sebenarnya jauh di dalam lubuk hati, aku tidak mati rasa.
Tidak, tidak sama sekali.
Tetapi aku selalu mengakui bahwa ini mati rasa, kenapa?
Aku takut, takut jatuh cinta.

Bukan karna aku trauma mencintai cinta yang tak berbalas. Bukan, bukan itu.
Satu-satunya hal yang membuatku takut adalah bahwa "ditemukan sebagai seseorang yang baik untuk dicintai tapi takut untuk mencintai dan dicintai."

Itu sangat buruk.

Berbulan-bulan, bertahun-tahun bahkan. Bergelut dengan perasaan dan pikiran yang kalut.

Rasanya jatuh cinta hanya ada dua pilihan : Kembali kepada cinta yang entah kapan, dan menemukan cinta yang entah dimana.

Aku benar-benar tidak mengerti kadang dengan diriku sendiri.

Banyak cinta yang datang, tapi aku belum bisa menyambutnya dengan sangat sangat baik hati.

Yang ada di benakku hanyalah : "Kau mungkin berpikir aku baik, percayalah aku tidak sebaik yang kau kira. Tapi juga tidak seburuk yang kau bayangkan."

Kadang rasanya perih. Mustahil.

Menjadi seseorang yang terpenjara dalam sepi dan ketakutan. Menikmati rasa yang diinginkan sendirian, dalam kesepian.
Dalam butiran airmata yang berlinang, dalam do'a dan harapan yang terucap di sudut hati terdalam :
"Wahai Tuhanku, Wahai yang memilikiku, Engkau maha mengetahui bagaimana keadaanku. Bagaimana aku nanti? Tolonglah aku.. Tolong.. Sungguh ketakutan ini belum sepenuhnya beranjak pergi, kalau pun ketakutan ini pergi, ketakutan lainnya akan segera muncul menyusul.."

Sangat disayangkan

Hatiku begitu rapuh
Tapi jiwaku mencoba bangkit melawan rapuh yang berdarah-darah
Sendirian

Lebih menyedihkan lagi perihal : "Kelak, bagaimana aku harus menjelaskan? Ataukah tidak usah saja?"


Ya Tuhan, rasanya membayangkan hari itu tiba saja hatiku gemetaran.

Sabtu, 22 Desember 2018

Kesuh? Aku kesuh kalau dibuat kesuh

Beberapa waktu lalu, aku sempat kesuh.
Menghadapi beberapa hal yang memang bikin kesuh. Akhir2 ini, aku sering dihadapkan dengan keadaan : Seperti sedang menghadapi bocah.

Memang lebih baik muda tapi dewasa, daripada tua tapi ke kanak2an.

Sayangnya, sampai detik ini pun aku ndak gitu tau dewasa itu yang gimana