Aku penakut, tapi aku berusaha buat berani.
Aku pemalu, tapi aku berusaha buat percaya diri.
Aku antusias menyampaikan apa-apa, tapi aku berusaha menahan diri.
Jika untuk hal yang aku ketahui aku berusaha bicara hati-hati, apalagi soal hal yang tidak ku ketahui???
Aku memilih lebih luwes, kalem, dan tau kapan harus bicara dan diam.
Kapan harus membela dan mempertahankan argumen-argumenku.
Selain karena aku membenci perdebatan, aku juga lebih ingin berusaha mendengarkan.
Agar pikiranku lebih terbuka.
Dan selalu mempersiapkan telinga untuk mendengarkan lebih seksama.
Aku boleh saja menjadi cengeng, rapuh dan lemah di dalam.
Tapi setiap kali kulangkahkan kaki untuk keluar, aku haruslah tersenyum dan berpakaian rapi.
Berbicara yang sopan dan bercanda secara hati-hati.
Agar tidak sampai lisan ini lepas berkata sembarangan, lalu menyakiti hati siapa saja yang mendengarkan.
Aku boleh saja menangisi beberapa hal yang terjadi, menangisi dan menyesalinya dalam-dalam.
Menangis sendirian, di malam hari dan dikamarku.
Tapi saat kulangkahkan kaki keluar dari rumah, aku haruslah tetap rapih dan manis.
Mataku boleh saja bengkak, tapi riasan wajahku harus rapih dan jangan berantakan.
Aku mungkin berantakan di dalam.
Tapi aku tidak ingin terlihat begitu semrawut dan awut-awutan.
Aku tidak suka orang lain melihatku pucat pasi dan muram.
Aku tidak suka terlihat begitu berantakan.
Di dalam aku boleh saja menangis sejadi-jadinya.
Tetapi di luar, aku harus lebih kuat dan tangguh daripada biasanya.
Bukan aku tidak mengakui kelemahan dan betapa berantakannya diriku, tetapi aku melatih diriku untuk merapihkan hal-hal yang bisa kutangani.
Kepada Kekasihku, Kanjeng Gusti, terimakasih karena sudah membuatku menjadi pribadi seperti ini.
Terimakasih karena saat aku begitu merasa sangat tertekan, hal yang kulalui selalu berakhir dengan ucapan :
"Ah, ternyata mudah sekali"
Aku bersyukur.
Untuk mengeluhkan beberapa hal, aku harus memikirkannya dulu lain kali.
Yang jelas, aku berusaha untuk tidak begitu tertekan dan berantakan.
Baik di dalam, maupun di luar.
Aku haruslah terlihat lebih rapi.
Baik-baik saja.
Dan enak dipandang.
Bukan keluar rumah dengan wajah kusut dan muram, dengan raut wajah yang begitu tertekan dan berantakan.
Itu tidak akan pernah enak untuk dipandang.
Bahkan ketika kau sangat hancur berantakan, kau harus terus menyisakan senyuman.
Untuk orang lain, dan dirimu sendiri.
---
Ah, seorang Profesor yang begitu menghormati orang lain dan dirinya sendiri.
Tutur katanya halus, sopan dan tertata rapi
Tidak mengatakan hal-hal yang tidak berarti.
Aku suka pribadi yang matang seperti ini.
Begitu mendamaikan.
Sehingga otakku bekerja dan berpikir untuk meneladani sikap santun nya.
Ah, Guru Besar memang demikian.
Ah, seorang guru memang harus demikian.